en Warga Sangkrah Desak Pemkot Bangun IPAL Komunal https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/warga-sangkrah-desak-pemkot-bangun-ipal-komunal Warga Kampung Tegalarjo RW 4 dan 5 Kelurahan Sangkrah, Pasarkliwon, Solo, mendesak Pemkot membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal lantaran warga kampung itu membuang limbah langsung ke Sungai Jenes.

‘’Kampung kami termasuk kawasan padat penduduk. Sejak kami tinggal di lokasi ini tidak ada septic tank untuk menampung limbah rumah tangga. Maka dari itu, kami meminta Pemkot memperhatikan dan mencarikan solusi dari keluhan warga,’’ ungkap Ketua RW 5, Bambang Purwanto, Jumat (30/11).

Menurutnya, permintaan IPAL Komunal sudah diajukan sejak 2005 lalu, namun belum ada realisasi dari Pemkot. Warga juga mengeluhkan Sungai Jenes berubah warna lantaran limbah pabrik.

‘’Setiap tahun saat musyawarah perencanaan pembangunan kelurahan (musrenbangkel) kami selalu mengajukan permintaan itu. Namun jawabannya selalu menunggu, lantaran berkaitan dengan tanah kepemilikan PT KAI, sehingga harus meminta izin terlebih dahulu,’’ ungkap dia.

Bambang menjelaskan, kampung mereka menempati tanah milik PT KAI, sehingga segala bentuk pembangunan harus mendapat izin terlebih dahulu dari instansi tersebut.

‘’Alasan yang sering kami terima tiap tahun selalu berkaitan dengan izin PT KAI. Padahal Pasar Sangkrah di utara rel masih berada di atas tanah PT KAI, sehingga kami cukup bingung mengapa pasar sebesar itu mudah dibangun, sedangkan IPAL untuk dua RW, Pemkot tidak bisa menyediakan,’’ ungkap Bambang.

Sementara itu, Lurah Sangkrah, Eka Budi Mulyana optimistis jika pembangunan dilakukan untuk kebutuhan bersama, PT KAI bisa memberi keleluasaan dalam penyediaan IPAL itu. ‘’Nantinya mereka akan menyurvei terlebih dahulu, sehingga penyediaan IPAL Komunal dapat segera dibangun,’’ kata Eka.

]]>
2018-12-01T06:09:00
Indonesia Jepang Teken Kontrak Pembangunan https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/indonesia-jepang-teken-kontrak-pembangunan-jakarta-sewerage Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Ditjen Cipta Karya menandatangani kontrak kerja sama pembangunan Sistem Pengolahan Limbah Terpusat (Jakarta Sewerage) Zona 1, di Jakarta, Jum'at (07/07/2017).

Penandatanganan kontrak dilakukan antara Pejabat Pembuat Komitmen PLP Strategis Albert Renaldo dengan Kepala Perwakilan Yachiyo Engineering Co. Ltd. Takeshi Watanabe, joint operation (JO) PT Reka Desindo Mandiri, PT Dwikarsa Envacotama, dan PT Kwarsa Hexagon.
 

Dirjen Cipta Karya Sri Hartoyo mengungkapkan, Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat di Provinsi DKI Jakarta yang dikenal dengan istilah Jakarta Sewerage System (JSS), dibagi menjadi 15 Zona Pelayanan.

Zona 1 dan Zona 6 merupakan kegiatan prioritas nasional yang diharapkan dapat dimulai konstruksinya.

"Proyek JSS merupakan proyek strategis nasional yang diharapkan dapat dipercepat penyelesaiannya. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan. Ditjen Cipta Karya siap mendukung semua yang dibutuhkan untuk pembangunan proyek ini," ungkap Sri Hartoyo dalam keterangan tertulis yang diterima KompasProperti, Sabtu (8/7/2017).

Penggarapan proyek ini ditargetkan rampung selama 28 bulan, yang dimulai sejak Juli 2017 hingga Oktober 2019.

Adapun lingkup pekerjaan meliputi pengkajian ulang hasil survei Public Private Partnership (PPP) termasuk desain dasar Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Selain itu, pekerjaan juga meliputi detail desain jaringan perpipaan Zona 1 dan detail desain IPAL-nya apabila skema PPP tidak diterapkan, tender assistance untuk jaringan perpipaan, tender assistance untuk IPAL, fasilitasi implementasi Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL), serta transfer teknologi.

"Kami berharap, setelah ditandatanganinya kesepakatan bersama ini, dalam waktu yang tidak terlalu lama kita dapat menindaklanjutinya dengan membuat secara spesifik pembagian tugas serta hak dan kewajiban dari masing-masing pihak," kata Sri Hartoyo.

Ia menambahkan, pembangunan JSS Zona 1 merupakan proyek percontohan, dan akan dibangun di sisi barat Waduk Pluit dengan luas empat hektar. Sementara, total biaya pembangunan sebesar Rp 115,7 miliar dimana besarnya dukungan APBN sebesar Rp 53,6 miliar. Sisanya, dibiayai dari Pemerintah Jepang senilai 533.940 Yen.

]]>
2018-12-01T05:54:00
Ratusan pabrik di Tangerang tak miliki IPAL https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/ratusan-pabrik-di-tangerang-tak-miliki-ipal Tangerang  - Sebanyak 30 persen atau seratusan lebih dari 600 pabrik di Kota Tangerang, Banten, yang menghasilkan limbah cair, diketahui tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Kepala Bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum BPLH Agus Prasetyo di Tangerang, Selasa, mengatakan, 600 pabrik tersebut tersebar di 13 kecamatan.

Untuk pabrik yang lokasinya berada di pinggiran aliran sungai Cisadane, ada sekitar 30 pabrik dengan skala besar, menengah hingga kecil.

"Banyak pabrik yang tak miliki IPAL. BPLH akan terus melakukan pengawasan dan meminta kepada pabrik yang belum memiliki IPAL agar segera mengurusnya," ujarnya.

Ia mengatakan, untuk pabrik yang terbukti membuang limbah tanpa dilakukan pengolahan, maka akan dikenakan sanksi.

Sanksi yang diberikan beragam, mulai dari administrasi, denda, pembekuan hingga pencabutan izin. "Kita lihat dulu kasusnya," ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah, menemukan secara langsung dua perusahaan yakni Leo Graha Sukses Pratama yang bergerak dibidang kertas dan PT CRC (Cisadane Raya Chemical) yang bergerak dalam industri pengepakan minyak goreng, membuang limbah ke sungai Cisadane.

Akibatnya, limbah warna putih dari kedua perusahaan tersebut terlihat mencemari sungai Cisadane.

Dari hasil penyelidikan oleh BPLH, ternyata sistem kerja IPAL kedua pabrik tidak berjalan optimal sehingga pembuangan limbah dilakukan secara sembarangan.

Pemkot Tangerang pun memberikan teguran keras dengan meminta kedua pabrik menutup pembuangan limbah ke sungai cisadane dalam kurun waktu dua hari sejak Senin (29/9).

Aktifis lingkungan, Romly Revolvere dari Wahana Fortuna, mendesak agar Pemkot Tangerang melaporkan temuan tersebut kepada kepolisian dan kejaksaan untuk di proses hukum.

Tindakan kedua perusahaan telah merusak lingkungan dan masuk dalam kategori pelanggaran berat.

"Sebagai pihak yang memergoki secara langsung, Wali Kota Tangerang bisa bertindak sebagai pelapor dan memerintahkan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) di BPLH Kota Tangerang untuk melakukan penyidikan atas temuan ini," katanya.

]]>
2018-11-30T08:23:00
Pemkot Surabaya Terapkan Sanksi Tempat Usaha Tanpa Ipal https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/pemkot-surabaya-terapkan-sanksi-tempat-usaha-tanpa-ipal Surabaya (Antara Jatim) - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan menerapkan sanksi terhadap tempat usaha seperti hotel, apartemen, restoran dan lainnya yang tidak memiliki dan tidak memfungsikan instalasi pengelolaan limbah (IPAL). 
     
Ketua panitia khusus (pansus) Pertiwi Ayu Krishna, di Surabaya, Kamis, mengatakan regulasi IPAL akan dibahas dalam rancangan peraturan daerah (raperda) pengolahan kualitas air dan pengendalian pencemaran air yang kini digodok di Komisi A DPRD Surabaya.     

"Jika benar tidak memiliki IPAL, maka pemkot tidak segan-segan akan mencabut izin usaha," katanya.
     
Menurut dia, raperda ini merupakan perbaikan dari perda sebelumnya yang dinilai masih sederhana. "Di lihat dari pasal per pasal tidak detail, jadi memang perlu ada perbaikan perda," katanya.
     
Politisi Partai Golkar ini memandang masalah limbah di Surabaya sangat memprihatinkan karena tidak memiliki tempat pengolahan limbah. Menurutnya,Indonesia yang mempunyai pengolah limbah hanya Bali. Padahal keberadaan pengolahan limbah sangat penting.
     
"Ini goalnya nanti harus ada zona-zona pengolahan limbah," katanya.
     
Berdasar Undang-undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang pengelolaan, pengendalian kualitas air, seluruh usaha wajib untuk memiliki IPAL. Ironisnya, lanjut dia, dari data Badan Lingkungan Hidup Kota Surabaya, hampir 70 persen pengajuan ditolak.
     
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Surabaya, Musdik Ali membenarkan hal itu. Dia menyatakan penolakan tersebut lebih disebabkan banyaknya pengajuan tidak sesuai standar. Termasuk, teknis pengolahan buangan dari usaha tersebut.
     
"Itu sekarang banyak terindikasi di apartemen-apartemen. Diduga, pendirian usaha tersebut mengejar target pembeli. Padahal, harusnya diperhatikan dulu kepemilikan IPAL-nya," ujarnya.
     
Dia mengatakan proses pendataan dan inventarisir jumlah usaha di Surabaya tengah dilakukan khususnya, dalam kepemilikan IPAL. Pemkot Surabaya ditambahkan Musdik tengah mempersiapkan sanksi baik secara administrasi sampai pada sanksi pencabutan izin.

]]>
2018-11-30T08:18:00
BPPT dorong pembangunan Ipal komunal Sungai Ciliwung https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/bppt-dorong-pembangunan-ipal-komunal-sungai-ciliwung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendorong pembangunan instalasi pengelolahan limbah (ipal) secara komunal yang mengolah sampah dari masyarakat dan pelaku industri di sekitar Sungai Ciliwung.

"Komunal kontrolnya lebih mudah," kata Deputi Pusat Teknologi Lingkungan BPPT Rudi Nugroho, di Jakarta, Kamis.

Rudi mengatakan, "kalau ipal dibuat sendiri-sendiri oleh perusahaan, institusi, atau perorangan, kontrolnya akan sulit dilakukan. Berapa pegawai yang selalu memonitor, mengawasi dan memberikan bimbingan."

Jika ipal komunal akan memudahkan pengawasan dan evaluasi sehingga dapat membuat kinerja yang optimal dan terpadu, ujarnya.

Dia juga menuturkan penegakan hukum juga harus dilakukan dengan ketat terhadap seluruh pihak yang membuang limbah ke Sungai Ciliwung.

"Kita harus bergerak bersama-sama tidak saling menyalahkan dan fokus ke depan apa yang harus dilakukan".

]]>
2018-11-14T03:17:00
Gelora Sulsel Soroti IPAL RSUD Massenrempulu Enrekang https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/gelora-sulsel-soroti-ipal-rsud-massenrempulu-enrekang Direktur Gelora Sulsel, Armin Laduri, menyoroti Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Massenrempulu.

Itu lantaran IPAL di RSUD Massenrempulu dinilai sudah tidak lagi memadai, sehingga perlu jadi fokus perhatian oleh Pemkab Enrekang.

"Ada beberapa dampak lingkungan yang muncul karena IPAL yang ada sekarang, itu sudah sangat tidak memadai, limbah-limbah di RSUD Massenrempulu itu sudah mulai tidak terkontrol," kata Armin dalam rilisnya kepada TribunEnrekang.com, Kamis (19/7/2018).

Bahkan, pihaknya mendapatkan aduan dari beberapa pengunjung RSUD Massenrempulu yang mencium adanya bau yang tidak sedap di sekitat wilayah rumah sakit



Artikel ini telah tayang di taqindo.com dengan judul Gelora Sulsel Soroti IPAL RSUD Massenrempulu Enrekang.

]]>
2018-11-14T03:05:00
Bangun IPAL untuk Ciptakan Sanitasi Bersih https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/bangun-ipal-untuk-ciptakan-sanitasi-bersih Belum semua warga Desa Pleret memiliki kesadaran untuk tidak membuang hajat secara sembarangan. Karena itu, pemerintahan desa (pemdes) setempat membangun instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Dusun Bunguran melalui Dinas Cipta Karya Kabupaten Pasuruan tahun lalu.

----------------

Kepala Desa Pleret Agus Supriyono mengungkapkan, pembangunan IPAL di Dusun Bunguran bukannya tanpa alasan. Sebab, lokasi ini termasuk wilayah yang kumuh dibandingkan dusun lainnya di Desa Pleret. Mayoritas warganya masih ada yang buang air besar (BAB) secara sembarangan.

“Kami kerap menemukan warga suka BAB di sungai. Karena itu, kami bangun IPAL di lokasi ini. Sehingga, sungai dan lingkungan setempat tidak tercemar,” kata Agus Supriyono.

Ia menyebut, IPAL ini berfungsi sebagai tempat penampungan sanitasi dan limbah rumah tangga. IPAL ini dihubungkan dengan 75 rumah warga di RW 9. Limbah dari setiap rumah akan disaring terlebih dahulu sebelum olahan ini dibuang ke sungai.

IPAL ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan saja, lokasinya ini dijadikan sebagai balai RW maupun kegiatan kelompok masyarakat. Sehingga, jika ada permasalahan, warga melakukan musyawarah untuk mencari solusi di lokasi ini.

“Saya lihat lokasinya cukup luas dan nyaman. Daripada terbuang tidak digunakan, lebih baik kan dijadikan sebagai tempat perkumpulan,” ungkap Agus.

]]>
2018-10-27T03:24:00
Bojonegoro Terima Bantuan IPAL Senilai Rp 400 Juta https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/bojonegoro-terima-bantuan-ipal-senilai-rp-400-juta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro mendapatkan bantuan. Kali ini berupa dana pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Bantuan tersebut berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Sebagai penerima manfaat, Pj Bupati Bojonegoro Suprianto sangat mendukung penuh program Kementerian PUPR pusat. "Harapannya ada peningkatan. Sebab Bojonegoro masih membutuhkan peningkatan sanitasi masyarakat," kata Suprianto di Bojonegoro, Jumat (20/7).

Kepala Dinas Lingkungam Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro Nurul Azizah menambahkan, proyek IPAL senilai Rp 400 juta itu akan dikerjakan di wilayah Sukorejo. "Semua yang mengerjakan dari Kementerian PUPR. Kami sebagai penerima manfaat," imbuh Nurul.

Sementara itu, acara serah terima bantuan sudah dilakukan di Ballroom Hotel Prime Plaza, Bali. Kementerian PUPR melaksanakan penandatangan perjanjian kerja sama (PKS) dengan 92 bupati dan wali kota se-Indonesia. Salah satunya adalah Bojonegoro.

Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Sri Hartoyo menyampaikan, sanitasi yang sehat sebagai cermin kesadaran dan kesehatan masyarakat. Sekaligus dapat berdampak multi effect alam. Salah satunya adalah pariwisata.

"Penandatanganan kerja sama ini tentunya sebagai kunci utama dalam penyiapkan infrastruktur berbasis masyarakat di setiap daerah yang berkelanjutan," tuturnya.

]]>
2018-10-27T03:13:00
Tahun Depan Surabaya Mulai Bangun IPAL Rumah Sakit https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/tahun-depan-surabaya-mulai-bangun-ipal-rumah-sakit SURABAYA – Kerja sama proses pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) rumah sakit dengan Jepang segera terwujud. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang beberapa hari lalu berkunjung ke Kota Kitakyushu, Jepang, mendapatkan lampu hijau jika program tersebut bisa segera terealiasasi. 

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini menegaskan, proses IPAL rumah sakit segera dijalankan. Karena saat ini kondisi rumah sakit mengalami kesulitan membuang limbah dan kondisinya tidak bisa ditunda lagi. Dengan dukungan dari Jepang, maka target pembangunan IPAL rumah sakit bisa dilakukan tahun depan. “Sudah ada persetujuan dan Pemerintah Jepang sudah oke,” katanya. 

Risma mengungkapkan, konsep kerja sama dengan Jepang untuk membangun IPAL akan dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Untuk memuluskan kerja sama itu, dirinya akan bertemu dengan Presiden Joko Widodo agar prosesnya semakin lancar dan cepat. “Tidak bisa ditunda lagi. Ini kebutuhan yang mendesak,” ujar mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, Senin (6/8). 

Menurutnya, pihak rumah sakit di seluruh Surabaya akan membayar biaya pengolahannya ke IPAL yang nantinya dibangun. Pembuangan ke IPAL rumah sakit hanya dikhususkan untuk rumah sakit di Surabaya, dengan alasan lahan yang terbatas. 

Dia menambahkan, kapasitas tempat pembuangan limbah rumah sakit tersebut bisa menampung hingga 50 ton per hari. Sementara, saat ini limbah rumah sakit di Kota Surabaya hanya sekitar empat ton per harinya. Sangat efisien bisa menampung limbah medis yang cukup banyak. “Jika terwujud masalah limbah rumah sakit akan bisa ditekan dan ditangani dengan cepat,” terangnya. 

Ketua Komisi D DPRD Surabaya Agustin Poliana mengatakan, mendukung upaya realiasai IPAL rumah sakit di Surabaya. Diharapkan, masalah limbah berbahaya bisa tertangani dengan metode penanganan sampah rumah sakit yang bisa ditangani dengan profesional. “Kerja samanya juga harus jelas nantinya pengelolaannya seperti apa,” ujarnya. 

Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan, pendataan rumah sakit dan klinik di Surabaya juga harus dilakukan dengan tepat. Sehingga, meski hanya rumah sakit dan klinik di Surabaya yang boleh memanfaatkan IPAL tersebut, harus ada verifikasi yang jelas terhadap fasilitas kesehatan di Surabaya. “Hal itu juga sebagai bentuk peningkatan pelayanan kesehatan di Surabaya,” pungkasnya.

]]>
2018-10-27T03:10:00
IPAL BIOFILTER -Pengolahan Air Limbah Biofilter https://taqindo.com/ipal/produk-layanan/ipal-biofilter-pengolahan-air-limbah-biofilter Prinsip teknologi pengolahan air limbah biofilter oleh CV. TAQINDO KARYA adalah proses biologis perpaduan aktifitas BIAKAN TERSUSPENSI dan BIAKAN MELEKAT. Biakan tersuspensi yaitu proses pengolahan limbah dimana mikro-organisme yang digunakan tersuspensi dalam air limbah , sedangkan biakan terlekat yaitu mikro-organisme dibiakkan pada suatu media sehingga melekat pada permukaan media. Sering juga proses ini disebut dengan proses film mikrobiologis atau BIO FILM. Sedangkan system yang digunakan oleh CV. TAQINDO KARYA adalah BIO FILTER KOMBINASI ANAEROB AEROB.

Prinsip kerja sistem ini adalah perpaduan penguraian air limbah oleh mikroorganisme yang tersuspensi dan lapisan biofilm yang melekat pada medium akan menguraikan senyawa-senyawa polutan yang ada di dalam air limbah misalnya BOD, COD, ammonia, phosphor dan lainnya. Pada saat bersamaan dengan menggunakan oksigen yang terlarut di dalam air senyawa polutan tersebut akan diuraikan oleh mikro-organisme menjadi biomasa.

Air limbah mengalir dari bawah ke atas (Down Up Flow) menembus kumpulan BIO BALL yang disuplai udara sebagai diffuser. Selama air bersentuhan dengan permukaan media terjadi proses biologis dimana prosestersebut bisa mengurangi kadar BOD dan SS.

Pengolahan air limbah menggunakan proses biofilter anaerob-aerob memiliki beberapa keunggulan antara lain :

  • Pengoperasiannya mudah.
  • Lumpur yang dihasilkan sangat sedikit karena melewati proses rantai makanan yang panjang dan melibatkan mikroorganisme dengan orde yang lebih tinggi dari pada proses lumpur aktif konvensional.
  • Tahan terhadap perubahan beban pengolahan secara mendadak baik konsentrasi maupun kapasitas pengolahan.
  • Kebutuhan udara untuk aerasi relatif kecil.
  • Air buangan memenuhi standar kualitas lingkungan.
  • Dapat di”upgrade” sesuai kebutuhan.

Alat Pengolah Limbah Domestik ( Ipal-Wwtp-Stp) Dengan Menggunakan Sistem Biofilter / Biocell / Jokahsu Atau Biofilm Anaerob Dan Aerob Plus Dengan Konstruksi Dari Bahan Fiberglass/ Frp Dan Beton Terutama Untuk Limbah Domestik.

Aplikasi

  • Rumah Tangga ( Tangki Septik)
  • Perumahan, Perkantoran
  • Hotel, Penginapan
  • Rumah Sakit, Kompleks Pendidikan
  • Pasar, Mall
  • Industri
  • Terminal, Bandara
  • Dll
]]>
2016-10-25T05:20:00