en TANGANI LIMBAH MEDIS, KLHK SOSIALISASIKAN STANDARDISASI TEKNOLOGI IPAL/INCINERATOR RAMAH LINGKUNGAN https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/tangani-limbah-medis-klhk-sosialisasikan-standardisasi-teknologi-ipalincinerator-ramah-lingkungan Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 3 Oktober 2018. Pengelolaan limbah dari fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) telah diatur secara khusus dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Upaya pengelolaan yang efektif juga terus dilakukan guna mencegah terjadinya pembuangan limbah secara ilegal.

Noer Adi Wardojo, Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan KLHK, menyampaikan, “KLHK telah memiliki mekanisme sistem verifikasi dan registrasi teknologi ramah lingkungan. Sistem verifikasi ini ditujukan bagi para penyedia teknologi yang akan menyampaikan informasi kinerja alatnya serta pemberian layanan teknologi yang baik dalam rangka pengendalian pencemaran lingkungan”. Sistem verifikasi dan registrasi ramah lingkungan ini mengacu pada standar internasional ISO 14034:2016 Environmental Management – Environmental Technology Verification (ETV).

Dalam rangka menampilkan teknologi-teknologi ramah lingkungan khususnya untuk teknologi bidang incenerator dan IPAL, KLHK menyelenggarakan Forum Standardisasi Teknologi IPAL/Incinerator Ramah Lingkungan. Dalam forum ini juga disampaikan informasi tentang standardisasi alat/teknologi pengolahan limbah dalam kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan jumlah/karakteristik limbah dan kinerja alat sesuai dengan klaim yang disampaikan.

Sampai dengan Juli 2018, baru terdapat 93 Rumah Sakit yang memiliki izin operasional Insinerator dengan total kapasitas terpasang sebesar 45 ton per hari. Pengelolaan limbah medis yang tidak dilakukan sendiri oleh Rumah Sakit dapat dilakukan oleh Jasa Pengolah Limbah B3 yang saat ini berjumlah 6 perusahaan dengan lokasi di Cilegon, Karawang, Bekasi, Sukoharjo, Mojokerto, dan Kutai Kartanegara dengan kapasitas olah total berjumlah 151,60 ton/hari.

Sinta Saptarina Soemiarno, Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 KLHK mengatakan,”KLHK dalam peraturan teknisnya telah mengatur secara rinci pengelolaan limbah medis, bagaimana limbah ini dikelola mulai dari sumbernya hingga pengelolaan limbah residu dari proses insinerasi.” Sinta dalam Sambutan mewakili Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 juga menyampaikan bahwa Dinas Lingkungan Hidup kabupaten/kota yang memiliki wewenang dalam penyimpanan limbah medis di Depo Penyimpanan, juga harus berusaha memperbaiki pengelolaan limbahnya di fasilitas sanitary/ controlled landfill.

Kasus pembuangan limbah medis yang semakin marak. Kondisi penumpukan limbah medis diperparah pada periode Triwulan IV Tahun 2017 s/d Triwulan I Tahun 2018, dimana terdapat beberapa Jasa Pengolah Limbah Medis melakukan penghentian penerimaan sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan limbah medis di banyak Rumah Sakit di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan KLHK mengambil langkah-langkah darurat pemusnahan limbah medis dalam kurun waktu 6 bulan.

“Disisi lain proses verifikasi dan registrasi teknologi ramah lingkungan juga dapat digunakan sebagai sarana edukasi bagi para pengguna teknologi dan publik untuk mulai memanfaatkan informasi dan kinerja teknologi yang dapat diandalkan berbasis kinerja dan terverifikasi” lanjut Noer Adi. Informasi publik tentang klaim kinerja alat/teknologi ramah lingkungan yang sudah terverifikasi dapat diakses melalui website Pustanlinghut: http://standardisasi.menlhk.go.id”.

Beberapa hasil penting yang diharapkan dari forum ini antara lain adanya masukan bagi KLHK terkait kebutuhan standardisasi alat/teknologi pengolahan limbah khususnya dari kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan jumlah/karakteristik limbah dan kinerja alat sesuai dengan klaim yang disampaikan; dan tercapainya pemahaman dari bisnis tentang manfaat registrasi teknologi ramah lingkungan dalam rangka memenuhi persyaratan perijinan maupun perencanaan kebutuhan alat pengolah limbah.

]]>
2019-02-18T05:36:00
KLHK SUDAH MILIKI SISTEM VERIFIKASI DAN REGISTRASI RAMAH LINGKUNGAN DENGAN STANDAR ISO SERTA ETV https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/klhk-sudah-miliki-sistem-verifikasi-dan-registrasi-ramah-lingkungan-dengan-standar-iso-serta-etv Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah memiliki mekanisme sistem verifikasi dan registrasi teknologi ramah lingkungan bagi para penyedia teknologi yang akan menyampaikan informasi kinerja alatnya serta pemberian layanan teknologi yang baik dalam rangka pengendalian pencemaran lingkungan.

Sistem verifikasi dan registrasi ramah lingkungan ini mengacu pada standar internasional ISO 14034 dan 2017 Environmental Management – Environmental Technology Verification (ETV).

Pernyataan itu disampaikan Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan Noer Adi Wardojo saat menjadi pembicara dalam Forum Standardisasi Teknologi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan Incinerator Ramah Lingkungan yang digelar KLHK di Manggala Wanabhakti, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

“Di sisi lain proses verifikasi dan registrasi teknologi ramah lingkungan juga dapat digunakan sebagai sarana edukasi bagi para pengguna teknologi dan publik untuk mulai memanfaatkan informasi dan kinerja teknologi yang dapat diandalkan berbasis kinerja dan terverifikasi” ungkap Noer Adi.

Informasi publik tentang klaim kinerja alat/teknologi ramah lingkungan yang sudah terverifikasi dapat diakses melalui website Pustanlinghut: http://standardisasi.menlhk.go.id.

Belakangan ini banyak teknologi ramah lingkungan yang ditawarkan, namun bagaimana publik membuktikan kinerja teknologi ramah lingkungan yang baik.

Sementara itu, penerapan teknologi ramah lingkungan merupakan suatu upaya yang penting, agar sumberdaya alam dan lingkungan hidup dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Dalam forum ini ditampilkan berbagai teknologi ramah lingkungan khususnya untuk teknologi bidang incenerator dan IPAL.

Selain itu, disampaikan juga informasi tentang standardisasi alat atau teknologi pengolahan limbah dalam kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan jumlah serta karakteristik limbah dan kinerja alat sesuai dengan klaim yang disampaikan.

Dari forum ini, KLHK berharap ada masukan terkait kebutuhan standardisasi alat atau teknologi pengolahan limbah khususnya dari kegiatan fasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan jumlah serta karakteristik limbah dan kinerja alat sesuai dengan klaim yang disampaikan.

Lantas tercapainya pemahaman dari bisnis tentang manfaat registrasi teknologi ramah lingkungan dalam rangka memenuhi persyaratan perijinan maupun perencanaan kebutuhan alat pengolah limbah.

Forum ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah (KLHK, kementerian dan lembaga terkait, Dinas LH Provinsi/Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota), Asosiasi/Lembaga Non Pemerintah/Institusi Terkait, dan RSUD di beberapa Kabupaten dan Kota di Indonesia.

Sebagai narasumber dalam forum ini adalah Kepala Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan, Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 KLHK, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Asosiasi Produsen Incinerator Indonesia, dan Asosiasi Produsen IPAL Indonesia yang menyampaikan best practices pemilihan alat pengolah limbah ramah lingkungan di Indonesia.

]]>
2019-02-18T05:26:00
IPAL Komunal di Bandung Berfungsi Jadi Balai Pertemuan Warga https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/ipal-komunal-di-bandung-berfungsi-jadi-balai-pertemuan-warga Warga Sukuplama RT 4 RW1, Kelurahan Cigending, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, kini memiliki balai pertemuan. Uniknya, balai tersebut dibangun di atas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal yang menampung 120 Sambungan Rumah (SR).

Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial mengatakan IPAL Komunal tersebut merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang didanai Islamic Development Bank (IDB).

"Ini merupakan realisasi kesekian kalinya. Kalau ini dibuat balai pertemuan, ada juga yang dibuat taman bermain anak atau RTH biasa," ujar Oded usai meresmikan, Senin (29/1/2018).
 

 

Dia mengatakan pemerintah pusat telah mencanangkan tahun 2019 tidak ada lagi masyarakat yang membuang limbah manusia ke sungai. Untuk itu Pemkot Bandung tahun ini akan fokus merealisasikannya.

"Nampaknya Cigending yang paling banyak masyarakat buang kotoran ke sungai. Makanya tahun ini kita prioritaskan di sini. Satu titik anggarannya sekitar 425 juta rupiah. Harapannya ke depan tidak ada lagi warga yang membuang kotoran ke sungai yang berdampak Citarum Harum terwujud," tutur Oded.

Asisten Perencanaan dan Pemrograman CPMU Kementerian PUPR Arin Mulyadi mengatakan IPAL Komunal yang digunakan sebagai balai pertemuan merupakan sebuah inovasi dari warga. Sebelumnya orang enggan membuat IPAL karena dianggap kotor, bau dan menjijikkan.

Bahkan, kata Arin, saat ini sudah banyak warga yang menghibahkan halamannya untuk dibuat IPAL. Hasilnya mereka tidak merasa kotor, karena IPAL tersebut tidak seperti yang dibayangkan oleh warga pada umumnya.

"Untuk yang sekarang ini cukup besar karena mampu menampung 120 SR. Biasanya satu infrastruktur hanya dibuat untuk 50 SR," katanya.

Ia berharap dengan adanya inovasi seperti ini warga mau membuat IPAL dan tidak lagi membuang kotoran ke sungai. "Sudah banyak sekarang inovasinya, tidak perlu khawatir bau. Bahkan di Makassar karena minim lahan mereka membuat IPAL di jalan, dan dengan rekayasa teknologi yang ada hasilnya tidak apa-apa," ujar Arin

Pantauan di lokasi, IPAL Komunal tersebut dibangun di lahan kosong yang biasa digunakan sebagai lapangan. IPAL yang berukuran sekitar 5x10 meter itu di atasnya difungsikan sebagai balai pertemuan dan pusat kegiatan warga. Untuk menyiasati bau, warga membuat pipa panjang agar sisa pengolahan bisa langsung terurai.

Selama berada di lokasi tidak ada bau sedikit pun di seputaran balai. Bahkan balai tersebut terlihat bersih dan ditumbuhi sejumlah tanaman dan pohon di sekitarnya.

]]>
2019-01-28T07:14:00
Air Limbah Genangi Pabrik IPAL Terpadu di Dayeuhkolot Bandung https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/air-limbah-genangi-pt-mcab-di-dayeuhkolot-bandung Air limbah menggenangi PT MCAB, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Genangan air limbah itu berasal dari luapan Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu milik mereka sendiri.

Genangan air limbah ini muncul setelah saluran IPAL yang berada di Cisirung, Dayeuhkolot tersebut dicor oleh Satgas Citarum Harum. Sebab, diduga PT MCAB membuang limbah ke sungai Citarum tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Pantauan detikcom, Selasa (24/7/2018) limbah yang dibuang ke aliran anak Sungai Cisuminta yang bermuara ke Sungai Citarum tersendat sehingga mengakibatkan limbah membanjiri kantor tersebut.

Limbah berwarna hitam pekat, berminyak dan mengeluarkan bau tidak sedap, menggenang dan merendam sejumlah gedung di kantor tersebut. Selain itu, nampak terlihat limbah yang keluar dari bawah tanah, menyembur dan mengeluarkan buih. Genangan air limbah tersebut hampir mencapai gerbang kantor.

Kepala Desa Pasawahan Mamet Slamet sempat mengkhawatirkan limbah yang menggenangi PT MCAB meluap ke pemukiman warga sekitar.

"Memang yang kami khawatirkan itu dampak ke warga, luapan dari sini. Tapi kita sudah mendapatkan penjelasan dari pengelola IPAL luapannya itu tidak akan berimbas ke warga sekitar," katanya di kawasan IPAL Terpadu.

Ia menilai luapan limbah tersebut diakibatkan oleh pengelola limbah yang belum maksimal."Mungkin ini pengolahannya yang belum maksimal. Karena debit air yang begitu tinggi, sementara hasil yang dialihkan dari pengolahan ini kurang maksimal jadi akhirnya yang terbuang ke sungai masih dalam keadaan hitam dan mengeluarkan bau," ungkap dia

Menurutnya hingga kini Pemerintah Kabupaten Bandung terus mendorong kepada pengelola untuk memperbaiki pengajian limbah di IPAL terpadu tersebut.

"Pemerintah terus mendorong, mengupayakan bekerjasama dengan IPAL ini terus menerus komunikasi baik dengan lingkungan hidup semaksimal mungkin supaya menghasilkan air yang bersih," ujar dia.

IPAL Terpadu PT MCAB menampung limbah yang berada di 24 pabrik industri di kawasan Dayeuhkolot. IPAL Terpadu tersebut menghasilkan sekitar 12-14 ribu meter kubik per hari
"Industri langganan kita sebagian di setop. Tapi masih ada yang jalan, kita harapkan setop semua untuk pengaturan pompa-pompanya biar (kembali) stabil," kata salah satu pengelola IPAL Terpadu Nursetiawan.

Ia memastikan limbah yang membanjiri kantor PT MCAB kurang lebih 10 centi meter. "(Dari 24 pabrik) 14 berhenti dengan alasan masih ada sisa-sisa, hari ini kita setiap semua," kata dia.

Saat disinggung, ada dugaan limbah yang dibuang IPAL Terpadu tersebut tanpa melalui proses pengolahan, ia membantahnya. "Itu sudah melewati proses IPAL, justru karena kita besar debitnya, kita proses cuman belum sempurna karena kita ada proyek," ujar Nursetiawan

]]>
2019-01-28T06:49:00
Pemkot Surabaya Siapkan Lahan Pembangunan IPAL 2,4 Hektar https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/pemkot-surabaya-siapkan-lahan-pembangunan-ipal-24-hektar Keseriusan Pemkot Surabaya membangun Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) medis atau rumah sakit sudah terlihat. Itu terlihat dengan kesiapan anggaran dan lahan seluas 2,4 hektar.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Eko Agus Supiadi mengatakan pihaknya sudah menyiapkam lahan milik pemkot yang jauh dari pemukiman untuk IPAL rumah sakit atau medis.

"Pengelolaan limbah ini terletak di Tambak Osowilangun, Benowo. Dibutuhkan sekitar 2,4 hektare lahan untuk memastikan bahwa pengelolaan bahan berbahaya dan beracun ini jauh dari pemukiman warga. Meski sebenarnya lahan yang dibutuhkan hanya seluas 1,5 hektare. Bahkan sekarang sudah diuruk. Sudah siap dibangun sebenarnya," kata Eko Agus kepada wartawan di Gedung Pemkot, Jalan Jimerto, Rabu (17/10/2018).

Selama ini jumlah limbah medis di Surabaya mencapai hingga 10 ton/hari. Selain limbah, IPAL yang akan dibangun itu juga mengolah jenis limbah B3 lain dari industri. Untuk pembangunan, lanjut Eko, Pemkot akan membeli mesin insinerator dari Kota Kitakyushu yang juga sebagai pihak pengkaji sebelum adanya pembangunan.

"Kami sebenarnya sudah siap untuk membeli mesin insinerator (alat pembakar sampah rumah sakit dan industri) seharga Rp 40 miliar. Mesin ini mampu mengolah limbah dari 10-15 ton/hari dan abu sisa pembakaran nantinya akan didaur ulang menjadi bata atau paving sehingga dapat menghemat biaya untuk penimbunan di landfill (penimbunan sampah pada suatu lubang tanah)," ungkapnya.

Namun keinginan pembuatan IPAL limbah diakui Eko masih terkendala perizinan dari pusat atau presiden. "Harapannya dengan digelarnya seminar segera ada titik terang keluarnya izin dsri pusat ditambah nantinya hasil seminar juga akan disertakan dalam surat yang akan dikirim Bu Wali ke Presiden," pungkas Eko.

]]>
2018-12-21T03:01:00
Kementerian PUPR Tingkatkan Layanan Sanitasi di Palembang https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/kementerian-pupr-tingkatkan-layanan-sanitasi-di-palembang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota untuk meningkatkan pelayanan sanitasi. Di kawasan perkotaan, Kementerian PUPR mengembangkan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik (SPALD) terpusat skala perkotaan.

Keberhasilan SPALD akan berkontribusi bagi percepatan capaian target 100 persen akses sanitasi layak di Indonesia pada 2019. Di samping itu akan membantu tercapainya milestone Suistainable Develompent Goals (SDGs), di mana pada 2030, setiap negara diharapkan mampu mewujudkan 100 persen akses sanitasi yang layak dan aman sebagaimana disebutkan dalam tujuan nomor 6, atau dikenal dengan Universal Access.

Tujuan tersebut sejalan dengan Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, salah satunya melalui akses terhadap sistem pengelolaan air limbah yang memenuhi standar kualitas lingkungan. Sanitasi skala kota terpusat akan dikembangkan diantaranya di DKI Jakarta (zona 1 dan 6), Kota Jambi, Kota Pekanbaru, Kota Makassar, dan Kota Palembang.  

"Kota Palembang,dinilai berkomitmen dalam upaya peningkatan pengelolaan air limbah, sehingga pemerintah pusat mendukung penuh atas upaya dari Pemerintah Kota Palembang," kata Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono , baru-baru ini.

Pada Kamis (2/11/2017) dilakukan pencanangan dimulainya pembangunan (groundbreaking) Instalasi Pengolahan Air Limbah ( IPAL ) Sungai Selayur, Kota Palembang, yang merupakan bagian dari Kegiatan Palembang City Sewerage Project(PCSP). Pencanangan dilakukan oleh Dirjen Cipta Karya, Sri Hartoyo, bersama Gubernur Sumatera Selatan, Alex Nurdin, Walikota Palembang, Harnojoyo, dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson.

"Dengan dimulainya konstruksi yang ditandai dengan groundbreaking ini, maka akan menjadi awal yang menuntut kerja keras lainnya hingga 5 tahun ke depan. Untuk itu, saya mengharapkan kerja sama pemerintah daerah dan instansi terkait kegiatan ini dapat mendukung kelancaran pelaksanaan proyek sejak tahap kontruksi sampai beroperasi nantinya," tambah Sri Hartoyo. 

IPAL Kota Palembang tersebut berkapasitas 20.000 m3/hari, dengan jaringan perpipaan bagi sekitar 21.700 sambungan rumah (SR) atau 100.000 jiwa, dan ditargetkan rampung seluruhnya pada 2021. Ditambahkan Sri Hartoyo, untuk membangun sistem tersebut diperlukan biaya yang cukup besar, yakni diperkirakan mencapai U$72,61 juta, atau sekitar Rp 943 miliar (kurs Rp13.000).

Pendanaan akan dilakukan bersama melalui APBN, APBD tingkat provinsi maupun kota, dan hibah dari pemerintah Australia. Adapun porsi APBN sebesar U$25,4 juta untuk pengadaan dan pemasangan pipa utama bertekanan sepanjang 8 km dan pengadaan pompa utama bertekanan, sementara dana hibah oemerintah Australia digunakan untuk pembangunan stasiun pompa, pembangunan IPAL, serta pematangan lahan, dengan total pendanaan sebesar U$28,9 juta.

APBD Provinsi Sumsel dan APBD Kota Palembang masing-masing sebesar U$9,1 juta, yang akan digunakan untuk pembangunan jaringan perpipaan ke perumahan dan bangunan komersil.  Pendanaan dari APBN dilakukan secara tahun jamak (2017-2019).

Kementerian PUPR, melalui Ditjen Cipta Karya menargetkan, pada akhir November ini akan dilakukan penandatangan kontrak pekerjaan pembangunan pipa jaringan utama dengan nilai kontrak tahun jamak sebesar Rp202,9 miliar. Kehadiran IPAL juga berkontribusi bagi Sungai Musi yang lebih bersih, karena warga tidak lagi membuang limbah tinja langsung ke Sungai Musi.

]]>
2018-12-21T02:48:00
Duh, Warga Garut Semprotkan Cairan Limbah Industri Kulit ke Jalan Raya https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/duh-warga-garut-semprotkan-cairan-limbah-industri-kulit-ke-jalan-raya Kesal tuntutannya untuk tidak membuang limbah ke sungai tidak digubris pengusaha pengolahan kulit. Ratusan warga dari tiga kampung yakni Sumbersari, Ciwalen dan Tanjung, Kecamatan Garut Kota, Garut Jawa Barat, akhirnya nekat menggelontorkan cairan limbah kulit ke jalan raya.

Tak ayal air limbah berwarna hitam dengan bau busuk pekat, menyeruak di sekitar jalan Ahmad Yani tepatnya di atas jembatan Ciwalen, Garut. Bahkan, satu tumpukan sampah yang berada dalam bak sampah seukuran dump truck, tak luput ditumpahkan ke bahu jalan, sebagai bentuk kemarahan warga.

"Kami sudah muak dan kesal kenapa tidak digubris juga," ujar Rizki (20), salah seorang pendemo dari kampung Ciwalen, di sela-sela demo, Jumat petang, 21 September 2018.

Ia menuturkan, industri pengolahan kulit di Sukaregang, Garut, mulai eksis sejak tiga dekade silam. Sejak itu, tiga kampung yang berdekatan dengan kawasan itu kecipratan imbasnya.

Bau busuk dari air limbah berwarna hitam pekat yang dialirkan langsung ke Sungai Ciwalen, menjadi pemandangan keseharian tiga kampung itu. "Saya sejak lahir tiap hari begini (bau busuk), coba bayangkan bagaimana kalau anda," ujar dia balik bertanya.

Berulang kali warga menyampaikan keluhan itu kepada pemerintah, termasuk pihak pengusaha, tapi kondisi tetap tidak berubaha. Para pengusaha kulit itu enggan menggunakan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang disediakan pemerintah.

"Lihat saja sendiri ke sana )lokasi IPAL pemda Garut)," ujar dia kesal.

Hal yang sama disampaikan koordinator aksi, Beng-beng. Menurutnya, aksi buang limbah kulit ke jalan merupakan puncak kekesalan dari persoalan limbah yang selama ini mereka hadapi.

"Ini bentuk kemarahan warga kami, jangan salahkan kami jika lebih dari ini," ucap dia.

Dalam setahun terakhir, tercatat dua warga telah meninggal dunia menjadi korban akibat masalah kesehatan yang ditimbulkan dari limbah pengolahan kulit itu. Selain kualitas air tanah yang memburuk dan tidak bisa diminum, juga mengganggu kesehatan pernafasan warga.

"Belum lagi ancaman banjir akibat endapan lumpurnya saat musim hujan tiba, mau bagaimana lagi kerusakan yang kami rasakan," keluh dia.

Saat aksi penumpahan limbah cair pengolahan kulit, antrean panjang kendaraan di sepanjang jalan Jalan Ahmad Yani tidak terbendung. Berada di pusat perkotaan Garut, kemacetan di kedua arus jalan tidak terhindarkan.

Beberapa pengemudi sepeda motor bahkan memilih menepikan kendaraannya, akibat bau busuk dan kekhawatiran dari limbah cair pengolahan kulit itu terhadap kesehatan kulit mereka.

Kondisi itu semakin parah, dengan tumpukan sampah yang ditumpahkan dari satu bak sampah seukuran dump truck ke tengah jalan. Namun aksi yang berlangsung sekitar tiga jam ini cepat dikendalikan, seiring datangnya anggota kepolisian dan TNI dari Danramil Garut Kota.

]]>
2018-12-20T06:11:00
PD Pal Jaya: Air Hasil Olahan Limbah Tinja Tidak untuk Diminum https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/pd-pal-jaya-air-hasil-olahan-limbah-tinja-tidak-untuk-diminum Direktur Utama PD Pal Jaya Subekti menyatakan, air bersih hasil pengolahan limba tinja tidak bisa digunakan untuk air minum seperti yang diberitakan sejumlah media pekan lalu.

PD Pal Jaya mengolah limbah bukan untuk jadi air minum. Kalau menjadi air bersih itu hanya jadi nilai tambah saja," kata Subekti kepada wartawan di kantor PD Pal Jaya di Jakarta Selatan, Senin (28/5/2018).

Ia menegaskan, fungsi PD Pal Jaya adalah untuk mengolah air limbah sampai ke baku mutu yang di persyaratkan sehingga tidak mencemari lingkungan. Hal itu pulalah yang dilakukan dengan menggunakan teknologi Andrich. Air hasil olahan dengan teknologi itu tidak bisa untuk diminum.

"Melalui sistem olahan ini (instalasi Andrich Teck) untuk memperbaiki kualitas olahan limbah, jadi tidak diperuntukan untuk air minum,"ujar Subekti.

Ia juga menegaskan, pengguna teknologi Andrich Tech memiliki dua tujuan, yakni memperbiki hasil olahan limbah serta untuk efisiensi pengolahan.

Karena melalui teknologi tersebut, dibutuhkan waktu hanya 30 menit untuk mengubah limba tinja menjadi air bersih, lebih cepat dibandingkan teknologi konvensional,

"Dua tujuan itu yang melatar belakangi PD Pal Jaya, Jadi kami tidak punya itensi untuk sampai air minum," kata Dia.

Direktur Teknik dan Usaha PD Pal Jaya Erwin Marphy Ali menjelaskan, peristiwa adanya orang yang meminum olahan air limbah tersebut hanya sekedar euforia saja.

"Itu hanya eouforia, kami sendiri tidak menyarankan untuk diminum," Kata Erwin di kesempatan yang sama.

Erwin menjelaskan, sampai saat ini, PD Pal Jaya belum melakukan pengujian laboratorium mengenai air hasil olahan limbah tinja tersebut karena hal tersebut bukan tugas pokok PD Pal Jaya.

"Saya tegaskan lagi, secara parameternya saja itu sudah berbeda antara air dari limbah dengan air minum. Tugas kami adalah mengolah air limbah untuk tidak lagi mencemari lingkungan," ujar dia.

]]>
2018-12-20T05:29:00
Air Limbah Genangi Pabrik IPAL Terpadu di Dayeuhkolot Bandung https://taqindo.com/ipal/produk-layanan/air-limbah-genangi-pabrik-ipal-terpadu-di-dayeuhkolot-bandung Air limbah menggenangi PT MCAB, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Genangan air limbah itu berasal dari luapan Instalansi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu milik mereka sendiri.

Genangan air limbah ini muncul setelah saluran IPAL yang berada di Cisirung, Dayeuhkolot tersebut dicor oleh Satgas Citarum Harum. Sebab, diduga PT MCAB membuang limbah ke sungai Citarum tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Pantauan detikcom, Selasa (24/7/2018) limbah yang dibuang ke aliran anak Sungai Cisuminta yang bermuara ke Sungai Citarum tersendat sehingga mengakibatkan limbah membanjiri kantor tersebut.

Limbah berwarna hitam pekat, berminyak dan mengeluarkan bau tidak sedap, menggenang dan merendam sejumlah gedung di kantor tersebut. Selain itu, nampak terlihat limbah yang keluar dari bawah tanah, menyembur dan mengeluarkan buih. Genangan air limbah tersebut hampir mencapai gerbang kantor.

Kepala Desa Pasawahan Mamet Slamet sempat mengkhawatirkan limbah yang menggenangi PT MCAB meluap ke pemukiman warga sekitar.

"Memang yang kami khawatirkan itu dampak ke warga, luapan dari sini. Tapi kita sudah mendapatkan penjelasan dari pengelola IPAL luapannya itu tidak akan berimbas ke warga sekitar," katanya di kawasan IPAL Terpadu.

Ia menilai luapan limbah tersebut diakibatkan oleh pengelola limbah yang belum maksimal."Mungkin ini pengolahannya yang belum maksimal. Karena debit air yang begitu tinggi, sementara hasil yang dialihkan dari pengolahan ini kurang maksimal jadi akhirnya yang terbuang ke sungai masih dalam keadaan hitam dan mengeluarkan bau," ungkap dia

Menurutnya hingga kini Pemerintah Kabupaten Bandung terus mendorong kepada pengelola untuk memperbaiki pengajian limbah di IPAL terpadu tersebut.

"Pemerintah terus mendorong, mengupayakan bekerjasama dengan IPAL ini terus menerus komunikasi baik dengan lingkungan hidup semaksimal mungkin supaya menghasilkan air yang bersih," ujar dia.

IPAL Terpadu PT MCAB menampung limbah yang berada di 24 pabrik industri di kawasan Dayeuhkolot. IPAL Terpadu tersebut menghasilkan sekitar 12-14 ribu meter kubik per hari
"Industri langganan kita sebagian di setop. Tapi masih ada yang jalan, kita harapkan setop semua untuk pengaturan pompa-pompanya biar (kembali) stabil," kata salah satu pengelola IPAL Terpadu Nursetiawan.

Ia memastikan limbah yang membanjiri kantor PT MCAB kurang lebih 10 centi meter. "(Dari 24 pabrik) 14 berhenti dengan alasan masih ada sisa-sisa, hari ini kita setiap semua," kata dia.

Saat disinggung, ada dugaan limbah yang dibuang IPAL Terpadu tersebut tanpa melalui proses pengolahan, ia membantahnya. "Itu sudah melewati proses IPAL, justru karena kita besar debitnya, kita proses cuman belum sempurna karena kita ada proyek," ujar Nursetiawan

]]>
2018-12-18T18:06:00
Baru 13 Kota di Indonesia yang Miliki Sistem IPAL Berskala Besar https://taqindo.com/ipal/updates-dan-artikel/baru-13-kota-di-indonesia-yang-miliki-sistem-ipal-berskala-besar Baru 13 kota di Indonesia yang telah memiliki sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berskala besar. Itu pun hanya terdapat di kota besar.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Sri Hartoyo di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Kamis (9/3/2017). "Baru sedikit, seperti di Surakarta, Yogyakarta, Banjarmasin, Jakarta, Makassar, Banda Aceh, Denpasar, Medan," katanya.

Air limbah domestik di kota-kota lain masih dikelola dengan sistem septic tankdan IPAL yang berskala lebih kecil. "Kita terus berupaya membina masyarakat membuat septic tank yang memenuhi syarat, tidak bocor. Kalau bocor, akan mempengaruhi air tanah," ujar dia.

Hingga saat ini, akses aman terhadap sanitasi baru 63 persen secara nasional. Pemerintah menargetkan 100 persen sanitasi pada 2019. Biaya untuk pembuatan sistem sewerage, menurutnya, memang membutuhkan anggaran besar. Namun hasil dari sistem tersebut dinilai lebih baik. 

"Kriteria air limbah yang sudah aman atau layak buang," ungkap Hartoyo.

Penilaian baik-tidaknya kondisi air biasanya menggunakan ikan sebagai indikator. Jika ikan dapat bertahan hidup, artinya kondisi air limbah yang sudah diolah sudah layak buang. "Seperti di UNS ini, indikatornya pakai ikan mas," pungkasnya.

]]>
2018-12-18T18:05:00